Halo..
Masih inget?
Ini aku.
Aku rindu.
Aku cemburu.
Aku disini.
Kau disana.
Kau mungkin lupa.
Kau mungkin tak sudi.
Kau mungkin tak ingin.
Yang pasti, aku nyata, dan kau mungkin.
Halo..
Masih inget?
Ini aku.
Aku rindu.
Aku cemburu.
Aku disini.
Kau disana.
Kau mungkin lupa.
Kau mungkin tak sudi.
Kau mungkin tak ingin.
Yang pasti, aku nyata, dan kau mungkin.
Wahai malam.. ingatkah engkau pada senyumku kala itu? disaksikan semilir angin membelai manja dinding bata kamar itu Wahai Sang teduh Nan rupawan Tahukah engkau? aku bahagia, tak terperikan rasanya Wahai malam kala itu, aku ingin engkau cepat berlalu tanpa sadar terik yang mengancam karna yang ku tau, aku bahagia dia pun juga Wahai penyongsong pagi engkau yang tau rasanya merelakan diri terkikis terhapus oleh datangnya pagi Wahai pagi sadarkah engkau? ada malam yang selalu merindu cintai engkau lebih dari teduhnya Wahai Penguasa Malam, hamba mohon sampaikan bahagia ini agar esok dia hadirkan senyum yang teduhkan harinya Wahai Penguasa Mimpi, ambil rindu ini untuknya karna masih ada berjuta rindu untuknya Dan itu lebih dari cukup.
“Jangan kau berikan cinta…bila rasa belum ada….
Kau bilang rindu, pada diriku…
Kau bahkan tak tau nama tengahku…..”
–dipopulerkan oleh Lea Simanjuntak-
Hari berganti hari.*yaelah. Kita tambah deket,dia sering telp dan ngobrol. Beneran pedekate, karna kita saling sharing masing2 diri. Karna slama ini kita cuma tau nama dan gak pernah ngomong lebih dekat. Dia tanya soal keluarga, masa lalu, sifat,dll. Yang aku simpulkan, dia adalah orang yang tertutup. Tapi seperti yang aku sebutkan sebelumnya, dia orang yang enak diajak bicara. Anggaplah kami berada dalam frekuensi yang sama. ;P
Dia bercerita sedikit tentang keluarganya dan hobinya(yang mirip sama aku!*karaoke pastinya). Yang aku tangkap, bahwa dia sangat menyayangi dan menghormati ibunya,bukan brarti ayahnya tidak disayangi, tapi dari cara dia bercerita, ibunya merupakan sosok yang dia kagumi. Sosok yang lembut dan sabar. Ada sedikit kekuatiran, karna aku, seperti yang telah aku beritahukan ke item, aku kasar, sensi, emosian. Tapi dia tidak masalah kayaknya..
Dalam tulisan ku tentang persahabatan sebelumnya, aku pernah bilang bahwa aku berusaha dengan keras menyesuaikan diri dengan temen ku yang cukup tertutup. Dimana aku harus belajar mengendalikan rasa penasaranku. Jadi, hal ini aku terapkan juga pada si Item. Pernah sekilas aku mau tau soal cewek dari masa lalunya, tapi entah dia gak denger, atau pura2 gak denger dan mengalihkan pembicaraan. Saat itu, tidak masalah buatku. Tidak perlu terburu2.
Aku cerita soal keluargaku yang berasal dari banyak suku, nyebar kemana2. Walaupun kayak keluarga Bhineka Tunggal Ika, tapi tidak mengalir dalam darahku suku yang sama dengan si Item. Aku cerita kalo soal suku ini pernah dijadikan alasan oleh salah satu mantan pacarku untuk pisah sama aku. Padahal, ternyata keluarganya gak masalah. Aku juga cerita bahwa aku sangat tidak menyukai kebohongan, dan lebih menghargai keterusterangan daripada cari2 alesan demi mencari menjaga perasaan atau mencari pembenaran atas tindakan yang dilakukan. Iyaaaaa, aku tau. Gak ada yang suka dibohongi, tapi buatku, ini hal utama.
Lanjuuutt….
Beberapa hari setelah pengungkapan perasaan, aku merasa suatu hari dia agak aneh. Lebih diem. Males2an bales sms atau ceting. Aku berpikir kalo mungkin dia ada masalah atau lagi badmood aja. Tapi gak tau kenapa, perasaanku gak enak.
Aku cerita sama temen ku, si C. Dia, seperti biasa, menenangkan aku. Ntah kenapa aku kepikiran soal suku yang beda antara aku dan si Item. Tapi lagi2, teman tercintaku menenangkan, kalo buat dia(yang notabene sama kayak si Item), masalah suku bukan hal yang akan dipermasalahkan.
Tapi, kok perasaan ku tambah gak enak. Akhirnya aku nanya Item lewat sms.
Aku : Are we okay?
Item : Why Asking?
Aku : gak tau, nanya aja.
Item : Ada hal yang harus kita bicarakan nanti.
Jeddddeeeeerrrr!!!!!
Tu kaaaaaaan…..Duh, kenapa yaaaaaa??????
“Unless commitment is made, there are only promises and hopes… but no plans.” -Peter Drucker (1909 – 2005)-
Mengapa seseorang bisa jatuh cinta kepada seseorang yang bertolak belakang kepribadiannya?
Ada orang yang bilang kalau jatuh cinta jangan dengan yang sama hobinya. Oke, hobi ya. Tapi gimana dengan pola pikir? Standar hidup? Skala Prioritas?
Kalo perbedaan hobi sich mungkin masih masuk akal ku, tapi kalo beda pola pikir? Misalnya yang satu orangnya liberal, yang satu orangnya saklek dan memutuskan apa2 sendiri, gimana coba? Trus, misalnya yang satu menganggap suatu hal itu penting, yang lain gak? Ada yang bilang itu lah serunya. Tapi kan ada batasan, yang malah bisa bikin ilpil. Iya gak sich?
Untuk itulah dituntut sebuah komitmen. Tapi saat seseorang mulai meninggalkan komitmennya, pihak yang ditinggalkan bisa apa? Saat dia bilang, “sepertinya kita sudah tidak sejalan”. Kita bisa apa? Bilang, “dulu kamu kan janji bla bla bla”. Trus, bisa apa kalo pasangannya udah bilang “pokoknya bla bla bla”. Apalagi berdalih, “ini yang terbaik buat kamu, kita”.
Padahal kan dari awal udah tau kalo beda. Okelah kalo di awalnya belum kliatan wujud aslinya, tapi kalo dari awal udah tau, gak mungkin kita mengharapkan seseorang berubah demi kita, disaat kita gak pengen berubah demi dia. Balik lagi ke karakternya dan tentu komitmennya kan?
Jadi, hal yang terbaik atau mungkin “aman” untuk dilakukan adalah mengharapkan yang terbaik dari diri kita, dan meninggikan pemakluman terhadap orang lain. Orang baik untuk orang baik. So, selalu lah memperbaiki diri. Semoga dikemudian hari, kita tidak dihadapkan pada masalah komitmen ini.
Dan kalo sampe kejadian, introspeksi diri adalah yang paling masuk akal dilakukan. Tapi jangan sampai menyalahkan diri sendiri. Apabila yang tampak adalah kesalahan dari orang lain, kita harus ingat, bahwa di dunia ini berlaku hukum sebab akibat. Tetap saja introspeksi merupakan faktor penting.
Yang terakhir adalah, ingat, Allah sayang. Allah melimpahkan kasih sayang-Nya dengan memberi peringatan, supaya kita tidak”melenceng. Amin.
*ditulis dalam 2waktu yang berbeda dan emosi yang bertolak belakang, jadi kliatan kayak ditulis 2 orang yang beda ya?
Peace!!
Waaaaaaa……Lama banget gak nulis…Nulis sich, tapi cuma masuk draft, gak ada yang selese. Okelah, sekarang kita lanjutkan yaaaa……
“Courage is doing what you’re afraid to do. There can be no courage unless you’re scared.” -Eddie Rickenbacker (1890 – 1973)-
Mulai part ini, sudah agak sulit untuk dimulai. Membangkitkan memori2 yang kebanyakan tidak ingin diungkit2 kembali. Bukan brarti sedih terus, beberapa tentu saja pengalaman yang membahagiakan, bahkan sangat membahagiakan, tetapi, ya mungkin karna berhubungan sama kondisi sekarang yang tidak begitu bagus. Sempat berfikir untuk loncat ke cerita yang lain aja, tapi kok jadi kayak pengecut ya..Okelah, akan diusahakan.
Waktu kembali ke kota tempat aku tinggal dan bekerja, aku tetap berhubungan dengan si item, lewat hape maupun ceting. Tambah intens. Si item temen ngobrol yang menyenangkan, mengingat aku kadang gak bagus moodnya disaat2 tertentu. Dia ngirimi aku foto2 kita waktu lagi di Mall (baca Si item Part 2). Dan “papa dan mama” terus berlanjut. Jadi semacam panggilan sayang.
Dan aku lupa kenapa bisa sampai kesuatu pembicaraan, melalui sms, dia bilang, “kita ta’aruf, supaya saling mengenal”. Aku gak tau harus merespon seperti apa, tapi yang aku tau aku seneng skaligus agak takut. Seneng karna aku ngerasa mungkin aku agak tertarik sama dia, takut karna pengalaman ku sebelumnya. Aku sepertinya tidak begitu baik menjaga hubungan. Tapi, jalani ajalah. Iya kan?
Kemudian akhirnya dia ngomong kalo dia punya perasaan sama aku, dia ngomong via telp. Dia bilang, setelah beberapa kali ketemu, kali ini rasanya beda. Aku diem. Aku bilang aku gak tau mau bilang apa. “it’s okay” katanya. Aku lemot. Aku agak lama baru tau apa yang aku rasain dan merespon sesuatu. Malemnya aku pikirin baik2. Dan besoknya aku ngaku kalo aku juga merasakan yang dia rasakan. Dan kenapa kemaren aku gak jawab sama sekali, karna aku takut. Dan aku ceritain aja sebabnya.
Aku sempet cerita ke seorang temen terdekatku yang kebetulan juga lumayan sering berinteraksi dengan si item. Waktu aku sebut nama si item, temen ku bilang, “sepertinya aku tau akan kemana ini”. Itulah temenku, gak perlu diceritakan panjang lebar, dia tau. Dia cuma pesan, supaya jangan terburu-buru. Dan sebagai informasi aja, dia bilang, si item itu keras orangnya. Tipe2 orang yang kerasnya tidak bisa di hadapi oleh temen ku itu. Tapi dia bilang, siapa tau kamu yang bisa hadapi. Jadi, maju terus.
Selain ke temenku di atas, aku juga cerita ke temen ku yang lain, anggap saja namanya C, seorang cwo yang hatinya lembut(selalu memberikan komentar yang menyejukkan). Dia bilang, “hey, kamu udah jadian lho brarti”. Aku ketawa aja. Tapi aku tulis status cetingan ku dengan tulisan “In Relationship”.hihii… Item liat, dan ganti juga!!!
Banyak yang komentar, aku senyam senyum aja.
Senengnyaaaaa……berbunga-bunga,seperti terbang ke langit ke tujuh, ditemani paus akrobatik.*hiperbola
Yippi!!!
“There shall be eternal summer in the grateful heart”
_G. E. Lessing (1729-1781)_
Apa yang kurang?
Saat kita ditanya begitu, banyak dari kita akan mempunyai list yang puuuaannjang..Iya gak?
Kurang cantik, kurang kurus, kurang kaya, kurang penting, kurang hebat, kuraaaaaang semua. Tahukah anda, apa yang sebenernya paling kurang????
Kurang ber- SYUKUR!!!
Oh yes dear, kebanyakan dari kita, saya juga, akan merujuk pada materi kalo ditanya hal itu. Kita selalu mengeluh atas apa yang terjadi pada diri kita. Kita selalu mengatakan hidup kita tidak lengkap, kurang sempurna. Tahukah anda, kesempurnaan menjadikan anda BUKAN manusia??
Saya menulis hal ini juga sebagai pengingat diri sendiri supaya tidak lupa bersyukur. Mengapa sich hal ini penting banget buat diingat?
Pertama, kebanyakan dari kita selalu MENGELUH.
Kedua, kalo kita mengeluh, kita gak bisa ENJOY lagi menjalani apapun.
Ketiga, kalo udah gak enjoy, hasil yang dicapai jadi gak MAKSIMAL.
Siapa yang rugi? Lha kita sendiri. Abis itu mau ngeluh lagi? Nyalahin orang, kondisi, bahkan TUHAN atas hal yang terjadi pada diri sendiri. Shame on you!!
Ada yang pernah bilang, terlepas dari segala sesuatu itu memang terjadi atas ijin Tuhan, tapi cobalah merenung sesaat apabila terjadi hal buruk atas diri kita. Mungkin saja itu cara Tuhan membersihkan kita dari dosa2 kita dimasa lampau, atau itu tanda dari Tuhan yang mau menjadikan kita manusia yang lebih baik.
Bukannya sok religius, tapi dengan bepikir seperti ini, biasanya cukup membantu dalam mengatasi dan menjalani masa2 sulit. Ingatlah, bahwa ada orang yang mengalami hal jauh lebih buruk dari kita. Dan mereka berhasil. Kita pasti bisa.
Teruslah bersyukur, bahwa kita slalu disadarkan apabila melakukan kesalahan. Kita merasa malu seandainya melakukan hal buruk. Itu tandanya Tuhan sayang.
Kita selalu melihat orang lain lebih enak hidupnya, lebih gampang cobaannya. Percayalah, you have no idea. Setiap manusia mempunyai titik lemahnya sendiri-sendiri. Disatu sisi, mungkin dia gampang mendapatkan keinginannya, tapi disisi lain, siapa yang tau. Seringlah melihat ke “bawah”. Dengarkan cerita orang. Kisah sedihnya kalau perlu, supaya kita tau, betapa indahnya hidup kita. Betapa dimudahkannya kondisi kita.
Ingat, kitalah yang menentukan nilai atas diri kita sendiri, semakin banyak kita mengeluh, menunjukkan kita tidak mampu. Mau dinilai tidak mampu?
Lakukanlah segala sesuatu dengan upaya keikhlasan yang maksimal, apapun itu. Walaupun memang menyusahkan. InsyaAllah ada hikmahnya. Percaya dech…
Semangat!!!!
Satu lagi dari pak Mario Teguh yang menginspirasi..
Saya peruntukkan kepada diri saya dan rekan2 diluar sana yang merasakan hal yang sama…
Diposkan di Facebook tanggal 2 Nopember 2011 :
—–
Engkau yang galau karena kepalsuan dari janji cinta, dengarlah ini ya?
Sadarilah bahwa luka hatimu itu hanya sedalam cintamu, dan kualitas cintamu seharusnya setinggi nilai dari orang yang kau cintai.
Bagaimana mungkin engkau menyerahkan seindah-indahnya cintamu kepada orang yang tidak jujur dan palsu?
Dan bagaimana mungkin engkau berharap kepada orang yang sampai hati membuatmu bersedih dan menangis?
Maka alihkanlah arah cintamu dari orang yang tidak baik bagimu itu, kepada kebutuhan dirimu untuk tampil menarik bagi cinta yang baru, yang sesuai dengan kebaikan hati dan pekertimu.
Dan bisikkanlah kepada Tuhanmu …
Wahai Yang Maha Lembut,
Selamatkan dan pulihkanlah hatiku dari kepedihan ini, mudahkanlah aku melihat keaslian dari keburukannya, damaikanlah aku karena pelajaran dari kepalsuan ini, dan pendarkanlah sinar cinta-Mu pada pribadi dan perilakuku, agar aku menjadi satu-satunya tujuan cinta bagi pribadi baik yang Kau hadiahkan kepadaku sebagai belahan jiwaku.
Wahai Yang Maha Cinta,
Temukanlah aku dengan belahan jiwaku, dan utuhkanlah keindahan hidupku bersamanya dalam pernikahan yang damai, penuh kasih, lembut memperlakukan satu sama lain, dan yang setia dalam kemudahan atau dalam kesulitan.
Aamiin
—-
Ini contekan dari Facebooknya Pak Mario Teguh yang di-post-kan tanggal 29 Oktober 2011 pukul 19.16 WIB.
Kenapa sampe aku post disini, karna aku suka banget, n berasa pas aja.. Kadang ada qoute ato kata2 yang mirip sama keadaan yang kita rasain, tapi masih ada yang beda dikit. Nah, kali ini, mungkin pertama kalinya, aku ngerasa bener2 pas. Simak yaa teman….
—
Bagimu yang sendiri, malam ini adalah saat yang mungkin paling membuatmu sadar mengenai kesendirianmu.
Dekatkanlah hatimu kepada Tuhanmu, dan bisikkanlah …
Tuhanku Yang Maha Penyayang,
Pasti Engkau mengetahui bahwa aku telah letih dalam upaya yang panjang dan berlarut merupawankan diriku, memaniskan senyum dan tuturku, menganggunkan tawa dan langkahku, agar aku sesuai bagi belahan jiwa yang baik.
Tapi …, aku masih sendiri, menyaksikan mereka yang telah Kau anugerahi kekasih dan pasangan hidup, tapi saling mengkasari dan mengkhianati satu sama lain.
Tuhan, maafkanlah pertanyaanku ini … Mengapakah Engkau mudahkan bagi mereka untuk menemukan kekasih dan pasangan hidup, padahal mereka tidak menghargai satu sama lain?
Mengapakah aku, yang dalam doa-doaku bertangis-janji kepada-Mu akan memuliakan belahan jiwa yang telah lama dan pilu kurindukan itu, … mengapakah aku masih sendiri dan iri melihat betapa mudahnya orang lain menemukan belahan jiwa mereka?
Tuhanku, maafkanlah hatiku yang karena kerinduannya bertanya seperti itu, dan maafkanlah juga akalku yang nyaris lumpuh dalam kebingunganku.
Maka, ini yang ku mohon dari-Mu malam ini,
Sabarkanlah aku dalam penantianku, indahkanlah upayaku untuk tetap tampil menarik walau menyembunyikan kepedihan dari kesendirianku.
Dan semoga, Engkau menjatuhkan hatiku kepada dia yang hatinya terpaut indah hanya kepadaku.
Dan semoga, Engkau merestui kesungguhan kami untuk menerima kekurangan satu sama lain, sebagaimana kami mensyukuri keindahan pribadi satu sama lain.
Dan semoga, Engkau menyatukan kami dalam pernikahan yang mesra dan setia, yang Kau anugerahi keturunan dan rezeki yang baik, dan yang panjang umur dalam kesejahteraan dan kebahagiaan.
Aamiin
Wahai Yang Maha Cinta ….
Aamiin
—
“Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu
cukup indahkah dirimu untuk selalu kunantikan
mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku
mampukah kita bertahan di saat kita jauh”
_Sheila On 7_
Ingat lagu SHeila On 7 yang judulnya “Seberapa Pantaskah”?
Kali ini pemikiran liarku gak jauh2 dari soal “kepantasan” seseorang. Tentu aja dipersempit dengan tema hubungan antara cwo dan cwe.
Sering masalah “kepantasan” ini naik kepermukaan saat seseorang putus cinta ato sedang bingung. Kadang2 aku malah bilang, orang mempermasalahkan “kepantasan” saat lagi cari alesan buat nolak.hahahaa… Mungkin menurut kalian terlalu gamblang, tapi coba pikirkan lagi. Apa beneran gak ada alesan lain buat nolak orang sampe2 masalah kepantasan dijadiin tameng. Oia, selain mau nolak ada yang lain lagi kalo menurut ku, yaitu waktu kamu jadi PENAKUT. Intinya cari2 alesan lah.
Kasus pertama, waktu dipake alesan buat nolak. Orang bakal bilang, “dia terlalu baik buat aku”.
Kasus kedua, dipake waktu jadi PENAKUT. Orang juga akan ngasi alesan yang bener2 mirip, “dia terlalu baik buat aku”.
Trus gimana bedainnya? Buatku sama aja! Intinya nyari alesan.
Gimana nggak, menurutku, kalo orang emang niat, hal konyol kayak gini gak akan jadi masalah.
“Aku bertahan karna ku yakin cintaku kepadamu..
sesering kau coba tuk mematikan hatiku..
takkan terjadi karna ku tahu kau hanya untukku..”
-Rio Febrian_
Mmmm..Lama gak posting.
oke, kali ini aku bakal mengutarakan betapa kagumnya aku terhadap kekuatan seseorang untuk mempertahankan diri. Bertahan disini maksudnya bukan “Survive” tapi lebih ke “Defense”.
Sudah pasti semua sadar betapa hebatnya tubuh kita secara fisik bertahan terhadap dunia luar, tapi bagaimana jiwa kita bertahan, menurutku lebih menarik untuk dibahas.
Sekali lagi aku ingatkan, bahwa semua omong kosong ku ini berasal dari pemikiran ku yang aneh. Jadi tidak ada dasar teori, sejauh ini, yang membenarkan. Atau riset. Atau apalah. Semata-mata hanya pengalaman pribadi dan kesimpulan sepihak. Halah.
Semua manusia mengalami kejadian yang berbeda-beda yang mengakibatkan perasaan mereka juga beragam. Tapi bisa dirangkum menjadi, sedih, senang, kecewa dan lain-lain. Terkadang ada beberapa kondisi yang mengakibatkan orang menolak untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Terutama perasaan yang tidak menyenangkan, misalnya Sedih dan kecewa. Memang sich, kayak menyalahi kondrat kalo kita “menolak” merasakan. Tapi manusia bereaksi dengan caranya sendiri-sendiri.
Ada kalanya, tanpa mereka sadari, udah otomatis, mereka nutup diri dari “merasakan”. Reaksi begini biasanya bisa kliatan awalnya kayak nyembunyiin perasaan, tapi sebenernya ini nyembunyiin perasaannya dari dirinya sendiri. Jadi teman, kalo ada seseorang disekitar yang memperlihatkan tanda-tanda mulai menutup diri atau menyembunyikan perasaannya, atau cuek terhadap hal menyedihkan yang terjadi dalam hidup, padahal biasanya orang ini ekspresif dan terbuka, berhati-hatilah. Perhatikan dia, tapi jangan ditekan. Temani dia.
Mengapa mereka jangan dibiarkan bereaksi seperti itu?
Masalahnya adalah, manusia mau tidak mau perlu tau apa yang mereka rasakan dalam pengambilan keputusan. Bukannya memutuskan karena perasaan, tapi lebih kepada dengan adanya perasaan, mereka lebih “manusiawi” dalam memutuskan. Mereka tau yang mereka rasakan, mereka tau yang mereka mau. Jadi kalo boleh dibilang, reaksi ini mungkin bisa disamakan dengan “lari” dari yang mereka rasakan atau dari masalah.
Kalo otomatis bisa ngebuka perasaan lagi sich, gak masalah. Tapi kalo di tutup n gak bisa dibuka lagi? BERABE!
Yang ada jadi “NUMB”. Wah,bingung dech kalo begini. Untung sich awalnya, gak galau, gak emosian. Tapi lama-lama, dia gak tau mau apa. Huff.
Hal kayak gini gak boleh terjadi. Harus cari cara gimana supaya bisa diatasi. Lakukan sesuatu yang jarang dilakukan, have fun, picu adrenalin, lakukan hal ekstrim. Jangan menyibukkan diri sendiri. Sama aja dengan lari juga.
So, selamat berusaha teman. Semoga bisa sama-sama direnungkan. Aku belum ketemu jawabannya. Maaf malah buat tambah bingung. Berbagi itu indah bukan? Walaupun berbagi kebingungan..